Tidak cukupkah setelah semua yang terjadi untuk Mavendra tak lagi mengulangi hal yang sama? Geeta benar-benar dilanda kebingungan sekarang, tubuhnya bergerak menuju meja yang ditempati oleh Mavendra dan Mahda, matanya memanas, seakan suhu dingin yang menerpa kulitnya tak lagi terasa, Geeta terlampau lelah untuk merasakan apapun sekarang.

Plak!

“Kenapa… kenapa aku harus ngerasain hal yang sama lagi sih, Kak?” Napas Geeta tercekat, tenggorokannya seolah dicekik dengan begitu kuat, mengeluarkan sepatah katapun menjadi hal yang mendadak sulit untuk dilakukan, “A-aku… should we break up? Aku udah capek, Kak. Capek banget. Kakak gak pernah berubah, demi aku pun… gak pernah…”

Mavendra tertegun mendengarnya, kepalanya menggeleng ribut, berusaha menggapai Geeta yang langsung pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasannya.

Fatal.

Apa yang dilakukan sepihak oleh Mahda sebelumnya benar-benar membawa petaka. Mavendra tak pernah menginginkan kecupan itu akan terjadi, semuanya begitu mendadak hingga ia bahkan belum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi. Dan terlebih lagi, dari mana Geeta tahu jika Mahda telah mengecup bibirnya?

Ah, ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan itu, ia harus segera mengejar Geeta kembali dan meluruskan segalanya.

Hubungannya—terancam kandas. Bahkan… lebih buruk dari itu.


Lucky baru saja keluar dari toko ritel, baru ia akan menyalakan rokoknya, netranya tak sengaja menangkap sosok yang begitu familiar olehnya, perempuan itu… Geeta. Namun, ada yang berbeda kala itu, terdapat jejak air mata di pelupuk matanya. Terlihat begitu sembab seperti habis menangis.

“Kali ini, mereka berantem kenapa lagi?” Bisiknya yang teredam keramaian jalan.

“Geeta!” Lucky berteriak memanggil. Tampak Geeta menoleh ke sekitar mencari sumber suara, Lucky menghampirinya, namun Geeta langsung memalingkan wajahnya. Tak ingin Lucky melihat jejak air mata di pelupuk matanya.

“Lo sendirian? Habis dari mana?” Lucky tak langsung menyinggung Geeta yang menangis, ia ingin memastikan setidaknya perempuan yang merupakan sahabat kekasihnya itu baik-baik saja.

“J-jalan-jalan aja kok, kebetulan lagi pengen nyari udara seger aja.”Bohong, tapi Lucky masih tak ingin menyinggung, “Mau mampir sebentar cari minum? Atau yang lain? Gue traktir, how?”

“Gue mau cari yang pedes-pedes, boleh?” Bukan maksud Geeta menawar, hanya saja, rasa pedas dapat membantunya mengurangi beban pikirannya sekarang.

Lucky tersenyum maklum, “Seblak? Gue tau tempat seblak yang enak di deket sini, Cath sering minta dianterin ke sana soalnya.”

Geeta mengangguk pelan, “Boleh.”