Kali ini, Mavendra tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Walau memang, sudah kesekian kalinya Mavendra dengan atau tanpa sadar melakukan kesalahan yang sama. Namun setidaknya, pada kesempatan kali ini Mavendra akan melakukan yang terbaik demi sang kekasih.
Terdengar seperti jenaka.
Kesungguhannya terasa seperti lelucon; Mavendra tau, dirinya banyak mengulang kesalahan yang sama terus menerus, banyak merepotkan Geeta dengan sifat buruknya yang sudah menjadi habit yang buruk pula.
Ketakutan Mavendra tak akan pernah usai jika laki-laki itu tak mencoba tuk merubah dan membenahi diri.
Buruk sekali. Mavendra tak ingin kehilangan Geeta begitu saja, terlebih hanya karena sifatnya yang sulit untuk ia rubah.
Jari Mavendra dengan cekatan mengetuk tuts keyboard ponselnya satu persatu, dengan satu tangannya masih aktif pada setir kemudi; mengabari sang kekasih, jika sebentar lagi ia akan sampai.

Terlihat manja sekali, tidak menampik, jika Mavendra sangat rindu akan kekasihnya. Ingin memeluknya erat, seraya mengusap rambut halusnya secara pelan dan teratur. Meski tak bisa menyampaikan sepatah kata, dari setiap sentuhan yang disalurkan Mavendra harap pesannya tersampaikan.
Jika Mavendra sangatlah mencintai Geeta.
Mobil berjenis sedan itu akhirnya memasuki pekarangan sebuah bangunan bertingkat, meski terhitung sudah cukup malam, namun kondisi di sekelilingnya masih sangatlah cukup ramai, banyak pejalan kaki maupun kendaraan yang melintas. Maklum, memang kawasan yang ramai anak kuliah juga pekerja.
Mavendra tampak melirik sekitarnya, sebelum benar-benar memfokuskan pandangannya pada ponselnya, hendak dirinya mengirim pesan pada Geeta, namun perempuan itu sudah lebih dulu turun dan mengetuk kaca mobilnya.
Tok! Tok!
Bibirnya sontak melebar tanpa bisa Mavendra cegah, dibukanya kunci pintu mobilnya, yang langsung disambut suara tarikan knop pintu mobil yang terbuka.
“Udah lama?” Geeta bertanya, sembari membenahi posisinya supaya lebih nyaman.
Kepalanya lalu menoleh pada Mavendra, badannya sedikit maju untuk menangkup pipi laki-laki itu dan mencuri satu kecupan di bibirnya.
Mavendra hanya diam tak bergeming, tak juga ingin membalas pertanyaan Geeta. Kecupan dari Geeta sebelumnya, buatnya benar-benar terdiam.
Sudah lama sekali.
Kapan terakhir kali mereka seintim ini?
Sebanyak itukah yang Mavendra lewatkan selama ini? Perasaan Geeta selama ini, bagaimana ya? Mavendra benar-benar buruk sekali ya? Kenapa Mavendra baru menyadari jika dirinya buruk sekali? Berulang kali dirinya berbuat jahat pada Geeta selama ini. Mavendra… merasa tak pantas untuk bersanding dengan Geeta. Merasa tak layak, tak punya muka untuk bersanding dengan perempuan sebaik Geeta.