“Kak, kenapa ya… Kak Mavendra beda sama lo?”
Lucky menarik satu alisnya, namun ia mengerti apa yang Geeta maksud. Lucky meletakkan sendoknya, menaikkan lengan kemejanya dan menunjukkan salah satu tattoo di sana, tattoo yang ia desain khusus untuk Catharina.
“Tattoo ini, gue yang desain. Khusus buat Cath, kalau orang mikir kenapa gue sebucin itu sama Cath padahal belum tentu kami bakal terus bareng sampai nikah, itu cara gue mencintai dia.” Lucky tersenyum mengelus tattoo itu perlahan, “Ini salah satu dari sekian bentuk cinta yang gue kasih ke Cath.”
“Dan Mavendra mencintai lo dengan caranya sendiri, cara yang gak bisa dia ungkapin ke siapapun termasuk lo sendiri,” Lucky menatap langit-langit tempat itu, kedua tangannya ke belakang menumpu tubuhnya, “Project dia yang sekarang, itu kalau berhasil untungnya gede, Gee. Dia pengen dapetin itu, buat lo.”
“T-tapi… kenapa justru dia seakan lupa sama aku, Kak? Aku ngerasa dia makin minim perhatian ke aku, minim kabar, bahkan kesalahan fatal hari ini…” Geeta ditarik paksa mengingat kembali memori yang paling menyakitkan.
“Gue gak tahu apa yang lagi kalian alami, tapi yang perlu lo tau, Gee. Mavendra serius sama lo, kalau gak percaya, lo bisa buka folder PC-nya di studio. Tentang lo semua, Gee.”
Geeta terdiam, selama ini, Mavendra memang melarangnya untuk tak sembarangan menyentuh PC miliknya di studio, se protektif itu hingga Geeta sendiri tak diperbolehkan untuk menyentuh.
“Mavendra harus bisa mulai terbiasa ngomong jujur sama perasaannya, lo juga. Kalian butuh bicara, dari hati ke hati.”
“Kak, makasih ya buat hari ini? Maaf gue ambil waktu lo dari Cath,” Geeta merasa tak enak telah menyita banyak waktu Lucky, hampir setengah hari keduanya menghabiskan waktu bersama.
Lucky terkekeh ringan, “Santai aja, Gee. Gue udah izin Cath juga lagian. Kalau gitu gue balik dulu ya, Gee. See you!”
“Sekali lagi makasih ya Kak buat hari ini, hati-hati di jalan.” Geeta melambaikan tangannya, berpamitan. Langkahnya berbalik, masuk ke dalam kostnya.
Begitu masuk ke dalam kostnya, Geeta terkejut melihat siapa yang ada di depan sana, berdiri di depan pintu kamar kostnya dengan kemeja yang kusut berantakan.
“Kak Mavendra…?”
“Aku gak mau kita berantem, ayo ngobrol?”
Untuk kali pertama, Geeta tak melihat Mavendra kabur.
“Masuk,” Geeta masuk ke dalam kamar kostnya, disusul dengan Mavendra yang mengikuti dari belakang. Geeta duduk menatap Mavendra, “Kakak mau ngobrol apa?”
“Kamu habis pergi sama Bang Lucky?” Tanya Mavendra.