“Kini aku paham, akan bagaimana rasa sakit yang pernah kamu rasakan sebelumnya. Aku minta maaf. Aku hancur tanpamu.”


The Story

“Ayo putus.”

Yunho terdiam; kaku tak dapat bergerak satu inci pun, ketika kalimat itu keluar dari bilah bibir sang kekasih. Kalimat yang tak pernah mau ia dengar, kini terucap oleh Karina.

Why? Aku ada salah sama kamu?” Ucapnya menolak, menyangkal. Tentu, bahkan otaknya tak dapat berpikir jernih sekarang, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, seolah tak tenang rasanya, tak ingin mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan dari kalimat ‘Ingin berpisah’.

Kenapa Karina membuat wajah seperti itu? Kenapa jantungnya—hatinya terasa sakit sekali melihatnya? Karina, sudah tahu ya?

“Kamu jahat, Kak. Jahat. Aku salah apa ke kakak?”

Yunho menggeleng lemah, tangannya dengan bergetar tangkup wajah mungil Karina. Tak ada penolakan, walau lagi, hati Yunho harus dibuat sakit ketika melihat air mata itu jatuh dari pelupuk mata indahnya.

Tidak, jangan menangis, tolong. Jangan menangis.

“Sejak kapan?”

Pertanyaan kedua terlontar, namun, Yunho tetap tak bisa menjawabnya. Sulit sekali rasanya, tenggorokannya seakan tercekik, sesak. “Aku tanya, Kak. Sejak kapan?” Nada Karina meninggi, tetapi terdengar parau dan serak.

“Aku…” suaranya tertahan, perlahan Karina lepaskan tangan Yunho dari wajahnya. “Kita sampai di sini aja ya, Kak? Hidup masing-masing seperti semula, kisah kita, cukup sampai di sini.”

Yunho ingin menyangkal, menolak. Hatinya tak ingin melepas Karina begitu saja, begitu pula dengan raganya. Namun, Yunho tahu, ia tak bisa melakukannya. Semua yang Karina todongkan padanya, benar adanya.

Karina tersenyum, terlihat pedih sekali, meski juga terlihat sangat manis. Senyum yang mungkin, akan Yunho dapat lihat untuk terakhir kalinya.

“Semoga kalian bahagia selalu ya, Kak? Aku gak apa, jika memang dia yang jadi bahagia Kakak, aku akan jauh lebih tenang. Setidaknya, kehadirannya bisa jauh buat Kakak bahagia dibanding saat sama aku.”

Enggak, aku bahagia sama kamu. Jangan bilang kayak gitu.

Kala itu, untuk pertama kalinya, Yunho menangisi akan kepergian seseorang. Lambaian tangannya, pun senyumnya, sungguh membuat hatinya tercabik, meski ada sedikit perasaan lega, karena tak harus lagi menyakiti hatinya.

“Aku pamit ya, Kak? Mungkin, Kakak tak akan pernah melihatku lagi setelah ini, I'm sorry. Good bye, my loved.”

Please, jangan pergi. Karina, jangan pergi. Jangan tinggalin aku sendiri. Tolong, jangan pergi. Maaf. Aku minta maaf, sayang. Jangan pergi…